Simulasi Angka Nyata dari Green Bean sampai Profit
Banyak pemilik roastery merasa omzet sudah besar, tapi saat dihitung detail ternyata margin tipis. Penyebab utamanya biasanya karena HPP tidak dihitung lengkap — terutama susut roasting, kemasan, dan biaya energi.
Di artikel ini kita bahas studi kasus laporan laba rugi roastery dengan angka realistis agar bisa jadi referensi praktis untuk pelaku usaha sangrai kopi.
Simulasi ini cocok untuk:
-
Roastery kecil–menengah
-
Kapasitas 60–120 kg roasting per minggu
-
Penjualan retail + wholesale
Profil Studi Kasus Roastery
Skala usaha: Roastery menengah
Mesin roasting: 5 kg batch
Produksi: 100 kg green bean per minggu
Produksi bulanan: ± 400 kg green bean
Susut roasting rata-rata: 15%
400 kg → menjadi ± 340 kg roasted bean
Harga Bahan Baku Green Bean
Roastery membeli beberapa origin:
| Origin | Kg | Harga/kg | Total |
|---|---|---|---|
| Gayo | 150 | 115.000 | 17.250.000 |
| Toraja | 100 | 135.000 | 13.500.000 |
| Flores | 150 | 105.000 | 15.750.000 |
Total pembelian green bean = Rp46.500.000
Hasil Setelah Roasting (Shrinkage)
Susut rata-rata 15%:
400 kg × 85% = 340 kg roasted bean
Artinya biaya bahan baku per kg roasted bean:
Rp46.500.000 ÷ 340 kg =
Rp136.764 per kg roasted
Ini angka yang sering salah hitung kalau shrinkage diabaikan.
Biaya Produksi Roasting Bulanan
Energi
-
Gas roasting = Rp3.500.000
-
Listrik grinder & sealer = Rp1.200.000
Tenaga Kerja Produksi
-
Roaster = Rp5.000.000
-
Helper produksi = Rp3.000.000
QC & Sample
-
Sample roasting & cupping = Rp800.000
Total biaya produksi = Rp13.500.000
Biaya Kemasan
Roastery menjual dalam kemasan 250g & 1kg.
Rata-rata biaya kemasan per kg roasted:
-
Pouch + valve = Rp4.500
-
Label = Rp1.500
-
Outer packaging = Rp2.000
Total ≈ Rp8.000 per kemasan 250g
Setara ≈ Rp32.000 per kg
340 kg × Rp32.000 =
Rp10.880.000
Total HPP Roastery Bulanan
Bahan baku roasted equivalent
Rp46.500.000
Produksi
Rp13.500.000
Kemasan
Rp10.880.000
Total HPP = Rp70.880.000
Penjualan Bulanan Roastery
Roastery menjual dengan komposisi:
Retail (60%)
204 kg → dijual rata-rata Rp265.000/kg
= Rp54.060.000
Wholesale (40%)
136 kg → dijual Rp210.000/kg
= Rp28.560.000
Total Penjualan = Rp82.620.000
Hitung Laba Kotor
Laba Kotor = Penjualan – HPP
Rp82.620.000 – Rp70.880.000
= Rp11.740.000
Margin kotor ≈ 14%
Ini contoh nyata bahwa roastery bisa terlihat omzet besar tapi margin tipis jika biaya tidak dikontrol.
Biaya Operasional Bulanan
Biaya Tetap
-
Sewa tempat = Rp6.000.000
-
Admin = Rp4.000.000
-
Internet & software = Rp800.000
Biaya Variabel
-
Maintenance mesin = Rp1.500.000
-
Marketing & sampling = Rp2.000.000
-
Distribusi = Rp1.200.000
Total Operasional = Rp15.500.000
Laba Bersih Roastery
Laba Bersih = Laba Kotor – Operasional
Rp11.740.000 – Rp15.500.000
= Rugi Rp3.760.000
Insight Penting dari Studi Kasus Ini
Dari simulasi ini terlihat:
⚠️ Margin retail belum cukup tinggi
Retail harusnya minimal 280–300k/kg agar sehat.
⚠️ Kemasan terlalu mahal
Bisa ditekan dengan pembelian volume besar.
⚠️ Produktivitas mesin kurang
Mesin 5 kg tapi volume belum optimal → biaya per kg tinggi.
⚠️ Komposisi wholesale terlalu besar
Wholesale margin lebih tipis.
Simulasi Perbaikan Harga
Jika retail dinaikkan ke 295.000/kg:
Retail baru = Rp60.180.000
Total penjualan = Rp88.740.000
Laba kotor baru = Rp17.860.000
Laba bersih ≈ +Rp2.360.000
Bisnis langsung berbalik untung.
Pelajaran Utama untuk Pemilik Roastery
✅ Hitung shrinkage roasting
✅ Pisahkan margin retail & wholesale
✅ Kemasan sangat mempengaruhi HPP
✅ Energi roasting bukan biaya kecil
✅ Harga jual harus berbasis data, bukan ikut pasar saja
✅ Volume produksi mempengaruhi margin