oleh: admin pada: 07/02/2026 10:24

Simulasi Angka Nyata dari Green Bean sampai Profit

Banyak pemilik roastery merasa omzet sudah besar, tapi saat dihitung detail ternyata margin tipis. Penyebab utamanya biasanya karena HPP tidak dihitung lengkap — terutama susut roasting, kemasan, dan biaya energi.

Di artikel ini kita bahas studi kasus laporan laba rugi roastery dengan angka realistis agar bisa jadi referensi praktis untuk pelaku usaha sangrai kopi.

Simulasi ini cocok untuk:

  • Roastery kecil–menengah

  • Kapasitas 60–120 kg roasting per minggu

  • Penjualan retail + wholesale


Profil Studi Kasus Roastery

Skala usaha: Roastery menengah
Mesin roasting: 5 kg batch
Produksi: 100 kg green bean per minggu
Produksi bulanan: ± 400 kg green bean

Susut roasting rata-rata: 15%
400 kg → menjadi ± 340 kg roasted bean


Harga Bahan Baku Green Bean

Roastery membeli beberapa origin:

Origin Kg Harga/kg Total
Gayo 150 115.000 17.250.000
Toraja 100 135.000 13.500.000
Flores 150 105.000 15.750.000

Total pembelian green bean = Rp46.500.000


Hasil Setelah Roasting (Shrinkage)

Susut rata-rata 15%:

400 kg × 85% = 340 kg roasted bean

Artinya biaya bahan baku per kg roasted bean:

Rp46.500.000 ÷ 340 kg =
Rp136.764 per kg roasted

Ini angka yang sering salah hitung kalau shrinkage diabaikan.


Biaya Produksi Roasting Bulanan

Energi

  • Gas roasting = Rp3.500.000

  • Listrik grinder & sealer = Rp1.200.000

Tenaga Kerja Produksi

  • Roaster = Rp5.000.000

  • Helper produksi = Rp3.000.000

QC & Sample

  • Sample roasting & cupping = Rp800.000

Total biaya produksi = Rp13.500.000


Biaya Kemasan

Roastery menjual dalam kemasan 250g & 1kg.

Rata-rata biaya kemasan per kg roasted:

  • Pouch + valve = Rp4.500

  • Label = Rp1.500

  • Outer packaging = Rp2.000

Total ≈ Rp8.000 per kemasan 250g
Setara ≈ Rp32.000 per kg

340 kg × Rp32.000 =
Rp10.880.000


Total HPP Roastery Bulanan

Bahan baku roasted equivalent

Rp46.500.000

Produksi

Rp13.500.000

Kemasan

Rp10.880.000

Total HPP = Rp70.880.000


Penjualan Bulanan Roastery

Roastery menjual dengan komposisi:

Retail (60%)

204 kg → dijual rata-rata Rp265.000/kg
= Rp54.060.000

Wholesale (40%)

136 kg → dijual Rp210.000/kg
= Rp28.560.000

Total Penjualan = Rp82.620.000


Hitung Laba Kotor

Laba Kotor = Penjualan – HPP

Rp82.620.000 – Rp70.880.000
= Rp11.740.000

Margin kotor ≈ 14%

Ini contoh nyata bahwa roastery bisa terlihat omzet besar tapi margin tipis jika biaya tidak dikontrol.


Biaya Operasional Bulanan

Biaya Tetap

  • Sewa tempat = Rp6.000.000

  • Admin = Rp4.000.000

  • Internet & software = Rp800.000

Biaya Variabel

  • Maintenance mesin = Rp1.500.000

  • Marketing & sampling = Rp2.000.000

  • Distribusi = Rp1.200.000

Total Operasional = Rp15.500.000


Laba Bersih Roastery

Laba Bersih = Laba Kotor – Operasional

Rp11.740.000 – Rp15.500.000
= Rugi Rp3.760.000


Insight Penting dari Studi Kasus Ini

Dari simulasi ini terlihat:

⚠️ Margin retail belum cukup tinggi

Retail harusnya minimal 280–300k/kg agar sehat.

⚠️ Kemasan terlalu mahal

Bisa ditekan dengan pembelian volume besar.

⚠️ Produktivitas mesin kurang

Mesin 5 kg tapi volume belum optimal → biaya per kg tinggi.

⚠️ Komposisi wholesale terlalu besar

Wholesale margin lebih tipis.


Simulasi Perbaikan Harga

Jika retail dinaikkan ke 295.000/kg:

Retail baru = Rp60.180.000
Total penjualan = Rp88.740.000

Laba kotor baru = Rp17.860.000
Laba bersih ≈ +Rp2.360.000

Bisnis langsung berbalik untung.


Pelajaran Utama untuk Pemilik Roastery

✅ Hitung shrinkage roasting
✅ Pisahkan margin retail & wholesale
✅ Kemasan sangat mempengaruhi HPP
✅ Energi roasting bukan biaya kecil
✅ Harga jual harus berbasis data, bukan ikut pasar saja
✅ Volume produksi mempengaruhi margin